ILMU KALAM

PENGERTIAN ILMU KALAM

Muhammad ‘Abduh (w. 1323 H / 1905 M) mendefinisikan  kalam sebagai : “ilmu yang membicarakan tentang wujud Allah, sifat-sifat yang wajib, mustahil dan yang mungkin ada pada Allah. Membicarakan tentang rasul-rasul Allah, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang wajib, mustahil dan yang mungkin ada pada rasul”.

Melalui ilmu kalam ditetapkan akidah-akidah agama dengan dalil-dalil, menolak yang syubhat, dan menentang musuh-musuh ilmu kalam dengan dalil-dalil yang qath’iy (pasti) dari al-Qur’an dan Sunnah. Ilmu kalam juga diarahkan untuk menetapkan hakikat agama melalui dalil-dalil akal.

NAMA LAIN ILMU KALAM. Ilmu kalam mempunyai nama-nama lain yaitu : al-fiqh al-akbar, ushul al-din, ilm al-nazar  wa al-istid lal, ilm al-tawhid wa al-shifat. Akan tetapi nama yang paling populer ialah ilmu kalam, kenapa demikian ? Karena obyek bahasan paling popular dari ilmu ini ialah mengenai kalam Allah,  apakah termasuk makhluk atau qadim. Perdebatan ini telah menyita waktu umat Islam sepanjang masa.

LATARBELAKANG LAHIRNYA ILMU KALAM. Setalah perang Shiffin usai, perang antara khalifah Ali dengan Muawiyah, disepakatilah Tahkim / perdamaian. Peristiwa ini menyebabkan umat terpecah menjadi tiga golongan, yaitu: 1) golongan Khawarij (pasukan Ali yang tidak setuju terhadap tahkim), 2) golongan Syiah (pendukung Ali), dan 3) Golongan Muawiyah. Dari persoalan politik ini akhirnya beralih ke persoalan teologis diantaranya ialah golongan Khawarij menganggap meraka yang melakukan tahkim telah berbuat dosa besar. Pelaku dosa besar hukumnya adalah kafir. Selain polemik politik yang berujung pada perbedaan dalam masalah akidah, juga adanya pembahasan dalam masalah akidah sebagai akibat tersebarnya ajaran Islam ke berbagai negeri yang berbeda bahasa dan kulturnya. Oleh karena itu, lahirnya ilmu kalam yang mengkaji masalah-masalah akidah tersebut tak terhindarkan.

Sebelum ilmu kalam lahir sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri, ia masuk ke dalam al-fiqh al-akbar  menurut Imam Abu Hanifah atau disebut juga al-fiqh al-din. Julukan ilmu kalam yang berdiri sendiri sebagai suatu disiplin ilmu sebagimana yang kita kenal sekarang ini lahir pada masa Khalifah Al-Ma’mun (218 H).

TEOLOGI KHAWARIJ

ASAL USUL NAMA. Nama Khawarij berasal dari kata kharaja yang berarti keluar, nama itu diberikan karena mereka keluar dari barisan Ali. Ada pula yang berpendapat bahwa pembicaraan nama khawarij didasarkan pada surat An-Nisa ayat 100: ”keluar dari rumah kepada Allah dan Rasul-Nya”. Dengan demikian golongan Khawarij memandang diri mereka sebagai orang yang meninggalkan rumah atau kampung halaman untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.

LATARBELAKANG LAHIRNYA. Di dalam perang ini pasukan Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali bin Abi Thalib. Namun dengan kelicikan Amru bin ‘Ash sebagai tangan kanan Muawiyah, ia minta berdamai dengan mengangkat Al-Qur’an ke atas. Qurra’ yang ada di pihak Ali mendesaknya agar menerima tawaran itu, maka terjadilah perdamaian (arbitrase /tahkim). Sebagai juru runding diangkat dua orang yaitu Amru bin ‘Ash dari pihak Muawiyah dan Abu Musa Al-Asy’ari dari pihak Ali. Dalam perundingan disepakati untuk menjatuhkan kedua pimpinan yang bertikai, yaitu Khalifah Ali dan Muawiyah sebagai gubernur Damaskus. Tradisi bangsa Arab mengharuskan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai yang tertua tampil terlebih dahulu. Ia berdiri dihadapan umat Islam mengemukakan putusan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan itu. Berlainan dengan apa yang telah disetujui, ternyata Amru bin ‘Ash mengemukakan hanya menjatuhi (melengserkan) kedudukan Ali dan menolak penjatuhan Muawiyah. Dengan demikian, pihak Ali dirugikan dan pihak Muawiyah diuntungkan.

PEMIKIRAN KHAWARIJ. Khawarij termasuk aliran yang sangat gigih membela mazhab, mempertahankan pendapat dan paling mudah menyerang pihak lain. Dalam mempertahankan argumennya, mereka menggunakan alasan dari pengertian lahir lafaz-lafaz al-Qu’ran dan meyakini bahwa pengertian lahir itulah agama yang suci, yang tidak boleh dilanggar oleh seorang mu’min. Alasan mendasar yang membuat aliran ini keluar dari kelompok Ali selain karena ketidaksetujuan terhadap arbitrase atau tahkim yang dilakukan Ali, juga karena keyakinan mereka bahwa semua masalah harus diselesaikan dengan merujuk kepada hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT. Semboyan la hukma illa lillah dilegitimasi dari surat al-Maidah ayat 44 yang artinya: ”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”. Berdasarkan ayat ini Ali, Mu’awiyah dan semua memutuskan sesuatu bukan dengan merujuk kepada al-Qur’an. Bagi mereka, arbitrase tidak mempunyai dasar dalam al-Qu’ran.

Term kafir kemudian tidak lagi diartikan sebagai “pengingkaran terhadap Allah dan Rasul-Nya”, tetapi juga dinisbatkan kepada orang-orang yang terlibat peristiwa tahkim. Tetapi term kafir ini, kemudian berkembang sehingga termasuk pada semua orang yang telah melakukan dosa besar. Secara global dapat dikatakan bahwa seorang muslim yang telah melakukan suatu dosa besar menurut kaum Khawarij telah menjadi kafir. Bagi Khawarij iman itu bukan hanya membenarkan dalam hati dan ikrar lisan saja, tetapi amal ibadah menjadi bagian iman. Seseorang yang tidak mengamalkan ibadah maka ia menjadi kafir.

TEOLOGI MURJIAH

ASAL USUL NAMA. Menurut Al-Syahrastani , nama Murjiah mengandung dua pengertian: Pertama “ta’khir” artinya menangguhkan / mengakhirkan. Hal tersebut  berdasarkan firman Allah SWT: “ mereka menjawab: beritangguhlah  dia dan saudaranya” (QS Al-A’raf, 111). Golongan Murjiah selalu mendahulukan niat dan menangguhkan amal. Kedua, “raja’ “ artinya pemberian harapan.

LATARBELAKANG MUNCULNYA . Benih-benih kemunculan aliran Murjiah sudah mulai tampak sejak abad II H. setelah melihat hal-hal sebagai berikut :

  1. Kaum Syiah menyalahkan orang-orang yang merebut kekhalifaan Ali.
  2. Kaum Khawarij mengkafirkan khalifah Muawiyah karena melawan khalifah yang sah, yaitu Ali bin Abi Thalib. Begitu juga Khawarij mengkafirkan Ali karena menerima “takhim” dalam perang Siffin.
  3. Muawiyah menyalahkan Kelompok Ali, karena membrontak terhadap Khalifah Ustman.
  4. Sebagian pengikut Ali menyalahkan sikap Siti Aisyah, Thalhah dan Zubair yang menggerakkan perlawanan terhadap Ali sehingga terjadi perang Jamal.

Dalam situasi seperti tersebut di atas, muncullah benih-benih kelompok Murjiah, yaitu sekumpulan umat Islam yang menjauhkan diri dari pertikaian, tidak mau menyalahkan salah satu pihak, tidak ikut menyalahkan atau mengkafirkan. Seolah-­olah mereka ingin “berpangku tangan”.

Di antara para sahabat yang bersikap seperti itu : Abdullah bin Umar, Abi Bakarah dan Imran bin Husein. Mereka menolak membaiat Ali sebagai Khalifah sekaligus tidak memberi sokongan pada Muawiyah.

PEMIKIRAN MURJIAH. Secara garis besar terdapat dua aliran pemikiran Murjiah; yang moderat dan yang ekstrem;  1) Murjiah moderat menganggap orang yang berbuat dosa besar masih disebut mukmin dan tidak kekal di neraka bahkan bila Tuhan mengampuni ia tidak masuk neraka, 2) Murjiah ekstrim berpendapat bahwa orang Islam yang beriman kemudian ia menyatakan kufur secara lisan, maka orang itu tetap mukmin karena iman itu tempatnya di hati bukan di lisan.

TEOLOGI JABARIYAH DAN QODARIYAH

JABARIYAH. Frase Jabariyah berasal dari jabara yang mengadung arti memaksa. Dalam hubungan ini, Al-Syahrastani (1967: 85), memberi makna al-jabr dalam konotasi penafian perbuatan hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Allah. Lebih jelasnya dalam teks bahasa Arabnya sebagai berikut:

ﺍﻟﺠﺒﺮﻫﻮ ﻨﻔﻲ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﺤﻘﻴﻗﺔ ﻋﻦ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﻮﺇﻀﺎﻔﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺐ ﺘﻌﺎﻟﻰ

Dari penjelasan di atas dapat dipahami, bahwa nama Jabariyah menunjuk kepada aliran kalam yang berpendapat bahwa manusia dalam perbuatannya tidak mempunyai kemauan atau inisiatif sedikitpun, tetapi terkait pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan.

Aliran Jabariyah yang dibawa Jahm ini merupakan aliran yang ekstrim.  Al-Syahrastani menyebutkan aliran Jabariyah yang bersifat moderat di bawa oleh al-Husain bin Muhammad al-Najjar (wafat di Hudud tahun 230 H). Menurutnya, perbuatan manusia itu diciptakan Tuhan, perbuatan baik maupun jahat, tetapi manusia mempunyai andil dalam perwujudan perbuatan-perbuatan tersebut, perbuatan manusia inilah yang kemudian diistilahkan oleh Al-Asy’ari dengan kasab.

QODARIYAH. Ma’bad al-Juhani (wafat tahun 80 H) dan Ghailan al-Dimasyqi (wafat tahun 105 H), berpendapat bahwa perbuatan manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Manusia menurut faham ini, mempunyai kemerdekaan dan kebebasan untuk menentukan perjalanan hidupnya. Manusia mempunyai kuasa dan kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, yang dalam istilah lain disebut free will dan free act. Kekuatan dan kekuasaan manusia tersebut disebabkan karena manusia mempunyai akal yang dapat digunakan untuk memenuhi kehendaknya. Ma’bad orang yang pertama berbicara tentang qodar di Basrah. Ia belajar hadis dari Ibnu Abbas, Imron bin Hushain dan lain-lain, sesudah itu ia pindah dari Basrah ke Madinah, kemudian menyiarkan fahamnya.  Ghailan al-Dimasyqi meneruskan faham Qodariyah di Damaskus. Kegiatan-kegiatannya mendapat kecaman keras dari penguasa Damaskus sendiri, yang ketika itu di bawah pimpinan khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H). Menurut Ghailan, manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya; manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan atas kehendak dan kekuasaannya sendiri, manusia sendiri pula yang melakukannya atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Dalam faham ini manusia merdeka atas tingkah lakunya.

TEOLOGI MU’TAZILAH

ASAL USUL NAMA. Secara bahasa kata “Mu’tazilah” berasal dari bahasa Arab, I’tazala, yang artinya mengasingkan diri atau menjauhkan diri. Namun, kenapa aliran Teologi Wasil bin Ata di namai Mu’tazilah ? Para ahli Teologi Islam dalam menjawab pertanyaan ini berbeda pendapat. Teologi Wasil dinamai Mu’tazilah karena ungkapan al-Hasan al-Basri: I’tazala a’nna Wasil, ketika Wasil memisahkan diri dari pengajian al-Hasan.

LATARBELAKANG MUNCULNYA. Para penulis sejarah aliran teologi Islam hampir sepakat, bahwa awal munculnya aliran Mu’tazilah yaitu pada akhir masa pemerintahan bani Umayyah. Tepatnya sejak munculnya pendapat baru Wasil bin Ata seputar posisi pelaku dosa besar. Menurut Wasil, pelaku dosa besar bukan Mu’min sepenuhnya dan pula Kafir sepenuhnya tetapi diantara dua posisi. Term Wasil dalam hal ini dikenal dengan : al-Manzilah bain al-Manzilatain (satu posisi diantara dua posisi) atau fasik.

PEMIKIRAN MU’TAZILAH.  Rasionalisasi Teologis aliran ini tertuang dalam lima dasar, yaitu: 1. Tauhid (meniadakan sifat Tuhan) ; 2. Keadilan (Allah tidak mungkin berbuat zalim kepada hambanya;  3. al-wa’d wa al-wai’d (janji dan ancaman);  4. al-manzilah bain al-manzilatain (mengambil satu posisi diantara dua posisi, orang mukmin pelaku dosa besar tidak mukmin tidak juga kafir, fasik) ;  5. al-amr bi al-ma’ruf wa an-nahy al-munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah kemunkaran).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s